Minggu, 21 Februari 2021

Akulturasi Kebudayaan Hindu- Budha dengan Kebudayaan Masyarakat Indonesia

 

Reaksi Bangsa Indonesia Terhadap Masuknya Budaya Dari India

Perubahan jalur perdangan dari darat menjadi jalur laut memberikan dampak Dengan menggunakan jalan laut maka, jalan terdekat bagi pedagang India yang akan ke Cina maupun sebaliknya adalah dengan melewati perairan Indonesia yaitu dengan menyusuri tepian pantai teluk Benggala, melewati Kepulauan Andaman kemudian masuk perairan selat Malaka, sampailah mereka di Indonesia untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan keluar dari Selat Malaka dan masuk ke Laut Cina Selatan maka sampailah mereka di Cina, demikian pula sebaliknya.

Sehingga hal tersebut menunjukan bahwa besar kemungkinan budaya dari India baik yang bercorak Hindu maupun Budha itu sudah ada di Indonesia sejak awal abad 1 Masehi, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya Patung Budha di Bukit Siguntang, di Sempaga maupun di di Jember. Penemuan patung Budha tersebut tentu mengandung arti:

         Pernah ada sekelompok orang pada abad 2 yang membawa arca Budha ke Indonesia

         Sekelompok orang tersebut telah berbudaya Budha

         Pada saat itu budaya Budha telah masuk ke Indonesia, namun belum berkembang.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia membawa perubahan signifikan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Namun, perlu kalian ketahui bahwa tidak semua unsur budaya dari India yang masuk ke Indonesia itu diterima begitu saja oleh bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia menyeleksinya terlebih dahulu disesuaikan dengan adat istiadat dan kepandaian yang sudah dimiliki.

Masuknya para pedagang India tersebut tentu dengan membawa seluruh akal budaya dan kepandaian mereka. Hal tersebut membuat terjadilah proses interaksi mereka dengan masyarakat di Nusantara. Interaksi yang terjadi bersifat akulturasi yaitu bertemunya dua unsur kebudayaan yang dapat hidup saling berdampingan serta saling mengisi tanpa menghilangkan unsur unsur asli dari kedua kebudayaan tersebut.

Terjadinya akulturasi antara kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan India adalah karena kebudayaan Hindu – Budha yang masuk ke Indonesia tidak diterima begitu saja oleh bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan:

·           Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar dasar kebudayaan yang cukup tinggi, sehingga masuknya kebudayaan asing menambah perbendaharaan kebudayaan Indonesia.

·           Masyarakat Indonesia memiliki kecakapan istimewa yang disebut local genius, yaitu kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur unsur tersebut sesuai kepribadiannya.

 

Wujud Akulturasi Budaya India Dengan Budaya Indonesia

Akulturasi kebudayaan adalah suatu proses percampuran antara unsur-unsur kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain, sehingga membentuk kebudayaan baru. Kebudayaan baru yang merupakan hasil percampuran itu masing-masing tidak kehilangan kepribadian atau ciri khasnya. Oleh karena itu, untuk dapat berakulturasi, masing-masing kebudayaan harus seimbang. Begitu juga untuk kebudayaan Hindu- Buddha dari India dengan kebudayaan Indonesia asli.

Contoh hasil akulturasi antara kebudayaan Hindu-Budha dengan kebudayaan asli Indonesia sebagai berikut:

·           Masuknya budaya dari India dalam seni bangun tidak diterima begitu saja oleh bangsa Indonesia disebabkan sebelum masuknya budaya dari India tersebut dalam bidang seni bangun bangsa Indonesia sudah menguasai tekhnik seni bangun yang cukup tinggi, terutama pada jaman Megalithikum, hal itu dapat dilihat dari adanya perbedaan bentuk seni bangun candi di Indonesia dengan candi di India, perbedaan tersebut meliputi:

·           Bentuk candi di India dan negara negara lain pada umumnya hanya berupa stupa saja, sedangkan pada candi di Indonesia, terdapat tangga tangga untuk sampai ke puncak candi yang merupakan unsur budaya Indonesia berupa punden berundak dari masa Megalithikum. Jadi bentuk candi di Indonesia merupakan perpaduan antara stupa dari India dengan punden berundakundak dari Indonesia di masa Megalithikum.

·           Fungsi Candi di India adalah sebagai tempat ibadah , sedangkan Indonesia selain sebagai tempat beribadah juga sebagai tempat menyimpan abu jenazah Raja yang dipengaruhi oleh Konsep Dewa Raja

 

Seni Bangunan

Wujud akulturasi dalam seni arsitektur bisa kita lihat bangunan candi, perpaduan kebudayaan masyarakat Indonesia terlihat pada bagian punden berundak pada bangunan candi.

Seni Rupa/lukis

Masuknya pengaruh India juga membawa perkembangan dalam bidang seni rupa, seni pahat dan seni ukir. Hal ini dapat dilihat pada relief atau seni ukir yang dipahatkan pada bagian dinding candi. Misalnya, relief yang dipahatkan pada dinding pagar langkan di candi Borobudur yang berupa pahatan riwayat sang Budha. Di sekitar sang Budha terdapat lingkungan alam Indonesia seperti rumah panggung dan burung merpati.

Seni Pertunjukan

Wayang adalah salah satu unsur budaya asli Indonesia, sebelum datangnya budaya India ceritanya adalah cerita asli Indonesia dengan tokoh tokoh pewayangan yang sudah sangat dikenal masyarakat seperti Semar, Petruk, Gareng dan lain lain, Tokoh tokoh tersebut adalah hasil kreasi dari local genius masyarakat Indonesia dan dibuat untuk menambah rasa lokal dalam cerita pewayangan. Terutama di dalam pewayangan Jawa banyak sekali lakon yang sudah cukup akrab di telinga masyarakat Jawa. Sedangkan setelah masuknya budaya dari India

ceritanya mengambil cerita India seperti Ramayana dan Mahabrata dengan tokoh Rama, Shinta, Gatotkaca, Bima, Basudewa dan lain lain.

Sistem Pemerintahan

Sebelum datangnya budaya India, sistem pemerintahan di Indonesia adalah pemerintahan dalam lingkup suku yang dikepalai oleh seorang kepala suku. Kehidupan manusia pada masa bercocok tanam mengalami peningkatan yang cukup pesat. Masyarakat telah memiliki tempat tinggal yang tetap.

Dalam perkembangannya, pola hidup menetap telah membuat hubungan social masyarakat terjalin dan terorganisasi dengan lebih baik. Dalam perkumpulan masyarakat yang walaupun masih sangat sederhana ini dibutuhkan keberadaan keberadaan seorang pemimpin yang mengatur kehidupan Bersama yang telah tersusun, pemipin tersebut adalah seorang kepala Suku. Pemilihan kepala suku dilakukan dengan menggunakan sistem primus inter pares yang utama diantara yang lain, syarat-syarat untuk menjadi kepala suku di antaranya harus memiliki kesaktian, kewibawaan, dan memiliki jiwa keperwiraan.

Setelah datangnya budaya dari India kepala suku tersebut menjadi Raja dan terbentuklah sistem pemerintahan kerajaan, akibatnya sistem pemerintahan kerajaan di Indonesia menjadi tidak persis sama dengan sitem pemerintahan kerajaan di India. Jika di India raja hanya dianggap sebagai seseorang yang memilki kekuasaan dan kekuatan, maka raja raja di Indonesia selain dianggap sebegai seseorang yang memilki kekuasaan dan kekuatan, lebih dari itu raja di Indonesia juga dianggap memiliki kesaktian bahkan disamakan kedudukannya seperti dewa . Pandangan tersebut mendorong munculnuya konsep Dewa Raja, yaitu raja raja di Indonesia disamakan kedudukannya seperti Dewa.

Sistem Kepercayaan

Sebelum datangnya budaya dari India, dalam hal kepercayaan bangsa Indonesia sudah memiliki kepercayaan Animisme yaitu kepercayaan kepada arwah nenek moyang yang dianggap tetap hidup dan memiliki kekuatan gaib. Selain itu nenek moyang bangsa Indonesia juga memilki kepercayaan Dinamisme yaitu kepercayaan kepada benda benda yang dianggap memeilki kekuatan gaib. Setelah masuk budaya dari India, terjadilah percampuran yang berwujud.

Kepercayaan Hindu – Budha yang masuk ke Indonesia tidak persis sama seperti yang berkembang di India, melainkan kepettrcayaan tersebut berpadu dengan kepercayaan yang sudah berkembang sebelumnya di Indonesia salah satunya Animisme, seperti pada wujud candi Borobudur , yaitu dengan meletakan stupa di puncak punden berundak undak yang dianggap sebagai tempat suci dalam sistem kepercayaan animisme.

Di India, Raja adalah Raja yang memimpin dalam sebuah pemerintahan, namun raja raja di Indonesia Raja bukan hanya sekedar pemeimpin dalam sebuah pemerintahan, melainkan raja raja di Indonesia juga dipandang seperti Dewa.

Dewaraja adalah konsep Hindu-Buddha yang memuja dan menganggap raja memiliki sifat kedewaan, bentuk pemujaan ini berkembang di Asia Tenggara. Konsep ini terkait dengan sistem monarki yang menganggap raja memiliki sifat illahiah, sebagai dewa yang hidup di atas bumi, sebagai titisan dewa tertinggi, biasanya dikaitkan dengan Siwa atau Wishnu.

Secara politik, gagasan ini dilihat sebagai suatu upaya pengesahan atau justifikasi kekuasaan raja dengan memanfaatkan sistem keagamaan. Konsep ini mencapai bentuk dan wujudnya yang paling canggih di Jawa dan Kamboja, dimana monumen-monumen agung seperti Prambanan dan Angkor Wat dibangun untuk memuliakan raja di atas bumi.

Sistem Penanggalan

Penggunaan Kalender saka di Indonesia dimodifikasi dengan unsur unsur penaggalan lokal terutama di Jawa dan Bali,seperti penggunaan Candra Sangkala atau kronogram dalam memperingati sebuah Peristiwa. Candra Sangkala adalah tanda atau penulisan tahun dalam bentuk sandi (perlambang) biasanya diwujudkan dalam bentuk untaian kalimat agar mudah diingat.

Berbagai peristiwa yang diberi sengkalan bermacam macam, diantaranya : berdirinya sebuah kerajaan, runtuhnya kerajaan, meninggalnya raja dari suatu kerajaan, tahun pembuatan karya sastra dll.

Contoh :

Tahun runtuhnya kerajaan Majapahit :Sirna Ilang Kertaning Bumi Sirna : 0 Ilang : 0 Kerta : 4 Bumi : 1, Jadi angkanya: 0041, membacanya dari belakang menjadi 1400 + 78 (tahun saka dimulai tahun 78 M) = 1478

Sistem Huruf

Berbeda dengan unsur budaya lain dimana sebelum masuknya budaya dari India unsur budaya tersebut sudah dimiliki atau sudah dikuasai oleh bangsa Indonesia, sehingga proses interaksi yang terjadi adalah interaksi yang bersifat akulturasi. Maka tidak demikian yang terjadi dalam kebudayaan menulis atau sistem huruf.

Sebelum masuknya budaya dari India bangsa Indonesia belum mengenal tulisan sehingga dikatakan masih berada pada jaman pra akasara, masuknya budaya India membawa kepandaian menulis sehingga membawa bangsa Indonesia masuk ke dalam jaman Sejarah. Maka dalam unsur budaya menulis tidak terjadi proses akulturasi, melainkan proeses interaksi yang terjadi antara Indonesia dengan India dalam hal sistem huuruf adalah interaksi yang bersifat adopsi, karena bangsa Indonesia sebelumnya memang belum mengenal tulisan (sistem huruf). Sistem huruf yang diadopsi ini kemudian dikembangkan oleh bangsa Indonesia hingga melahirkan huruf jawa kuno, huruf Melayu Kuno

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

 

Rangkaian Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

 

 

a.      Kekalahan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya

Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor (Hawai) dihancurkan Jepang, kemudian Kaigun (Angkatan Laut Jepang) mengirimkan empat kapal induk ke Kepulauan Midway di tengah Samudra Pasifik untuk menghabisi sisa armada Pasifik Amerika Serikat.

Alih-alih mengalahkan armada Amerika Serikat, kode komunikasi rahasia Kaigun berhasil dibuka pihak AS. Jumlah kekuatan musuh bisa diketahui dengan pasti, waktu serangan Jepang juga diprediksi dengan tepat, sehingga armada Jepang dapat dihancurkan dalam pertempuran.

Kekalahan di Midway sangatlah telak sehingga pihak Kaigun menutupi kabar tersebut agar tidak diketahui publik Jepang, bahkan hingga akhir Perang Pasifik. Kekalahan di Midway membawa dampak buruk bagi militer Jepang, seperti efek domino, perang-perang berikutnya Jepang selalu mengalami kekalahan di Pasifik. Seperti pulau Saipan, Iwo Jima, dan Okinawa berhasil dikuasai oleh Sekutu, padahal pulau-pulau tersebut memiliki peranan penting bagi keamanan militer Jepang.

Kekalahan-kekalahan yang terjadi membawa Jepang semakin terdesak dalam kancah pertempuran di Pasifik. Untuk membantu dalam pertempuran tersebut, Jepang berusaha mencari simpati dari bangsa Indonesia, dengan cara memberikan janji kemerdekaan yang disampaikan Perdana Menteri Koiso dan direalisasikan dengan pembentukan BPUPKI serta PPKI.

 

b.      Peristiwa Bom Atom

Pada tanggal 26 Juli 1945, tiga pemimpin negara yang tergabung dalam sekutu yaitu Presiden Harry S. Truman (Amerika Serikat), Perdana Menteri Winston Churchill (Inggris Raya), dan Chiang Kai Sek (Cina), melaksanakan Konferensi di kota Postdam (Jerman) menghasilkan sebuah deklarasi mengenai kekalahan Jepang, yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Postdam.

Isi dari deklarasi Postdam diantaranya, semua penjahat perang harus diadili secara keras, termasuk mereka yang melakukan kekejaman terhadap para tawanan. Pemerintah Jepang harus memberi kebebasan dan memberlakukan demokrasi, serta penghormatan atas hak-hak asasi manusia. Pemerintah Jepang juga diberikan kesempatan untuk memilih mengakhiri perang kepada sekutu dengan cara menyerah tanpa syarat atau memilih untuk penghancuran secara besar-besaran. Namun sayangnya, Jepang menolak isi deklarasi tersebut.

Atas dasar sikap Jepang tersebut, Amerika Serikat menjatuhkan bom di dua kota yaitu Hiroshima dan Nagasaki. Bom nuklir “little boy” dijatuhkan di Kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945, selanjutnya Bom nuklir “Fat Man” dijatuhkan di Kota Nagasaki pada 9 Agustus 1945.

Bom yang diledakkan di dua kota Jepang tersebut, menyebabkan ratusan ribu penduduk Jepang meninggal dunia dan ratusan ribu lainnya mengalami cacat. Pada tanggal 14 Agustus 1945 (Waktu Amerika Serikat) atau 15 Agustus 1945 (Waktu Jepang), Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu dan mengakui deklarasi Postdam. Pada tanggal 2 September 1945, Mac Arthur sebagai perwakilan dari pasukan sekutu bersama perwakilan dari pemerintah Jepang melaksanakan upacara penyerahan dan menandatangani dokumen penyerahan.

 

c.       Perbedaan Pendapat Golongan Muda dan Tua

Bom atom yang dijatuhkan oleh Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki sampai jugaa ke telinga para aktivis pergerakan. Pada tanggal 9 Agustus 1945, tiga tokoh Indonesia yaitu, Soekarno, Moh. Hattaa, dan Radjiman Wedyodiningrat terbang ke Dalat, Vietnam menemui Marsekal Terauchi. Sehari setelahnya, tanggal 10 Agustus 1945 tokoh golongan muda Sutan Syahrir mendengar siaran radio BBC (British Broadcasting Corporation) tentang kekalahan Jepang dan kemungkinan akan menyerah kepada Sekutu. Berita kekalahan tersebut dalam waktu singkat, menyebar ke kalangan aktivitas pergerakan, baik Golongan Muda dan Golongan Tua. Terlebih pemanggilan ketiga tokoh nasional Indonesia ke Vietnam menambah keyakinan para aktivis pergerakan, bahwa kemerdekaan Indonesia menjadi agenda pembicaraan.

Sepulangnya ke Indonesia, Mohammad Hatta bertemu dengan Sutan Syahrir membicarakan terkait Proklamasi Indonesia. Syahrir berpendapat Golongan Tua harus segera cepat memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, tetapi hal ini dibantah oleh Hatta, dikarenakan proklamasi Indonesia akan diserahkan kepada PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang telah dibentuk. Syahrir berpendapat lain, menurutnya kemerdekaan jangan dilakukan melalui PPKI, karena Sekutu akan mengecap kemerdekaan sebagai buatan Jepang, sebaiknya Soekarno sendiri yang menyatakan kemerdekaan di corong radio sebagai pemimpin rakyat.

Perdebatan antara Hatta dan Syahrir menjadi polemik diantara golongan muda dan golongan tua. Inti dari perdebatan bukan pada ada atau tidak pelaksanaan proklamasi, melainkan beberapa hal seperti:

·           Bagaimana proklamasi itu dilaksanakan

·           Apakah ada campur tangan Jepang atau tidak dalam pelaksanaan proklamasi Soekarno dan Hatta menghendaki sikap yang kooperatif dengan Jepang,  dimana hal-hal mengenai proklamasi harus dikonsultasikan dengan pihak Jepang, jadi menurut Soekarno tidak perlu tergesa-gesa.

Ada dua pertimbangan Soekarno mengenai pendapatnya, yaitu:

·           Militer Jepang masih ada di Indonesia, proklamasi tanpa izin Jepang ditakutkan akan memicu pertumpahan darah.

·           Jepang telah berjanji akan melaksanakan proklamasi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1945 melalui PPKI.

Sekali lagi, pertimbangan dari Soekarno ditolak oleh Golongan Muda. Menurut Golongan Muda kemerdekaan Indonesia harus diraih dengan pengorbanan dan perjuangan rakyat sendiri, bukan campur tangan Jepang.

 

d.      Peristiwa Renggasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok disebabkan karena para pemuda gagal memaksa golongan tua untuk secepat mungkin memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang. Menurut Golongan Muda jika Soekarno-Hatta masih berada di Jakarta maka kedua tokoh ini akan dipengaruhi dan ditekan oleh Jepang serta menghalanginya untuk memproklamirkan kemerdekaan.

Malam hari di Tanggal 15 Agustus 1945, sebelum terjadi peristiwa Rengasdengklok, golongan pemuda mengadakan suatu perundingan di ruangan Lembaga Bakteriologi Pegangsaan Timur, yang dipimpin oleh Chaerul Saleh. Keputusan rapat yang menunjukan tuntutan-tuntutan radikal golongan pemuda yang diantaranya menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tak dapat digantunggantungkan pada orang dan kerajaan lain. Segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang harus diputuskan dan sebaliknya diharapkan diadakannya perundingan dengan Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta agar supaya mereka turut menyatakan proklamasi.

perbedaan pendapat, dimana golongan pemuda tetap mendesak agar besok tanggal 16 agustus 1945 dinyatakan proklamasi, sedangkan golongan pemimpin angkatan tua masih menekankan perlunya diadakan rapat PPKI terlebih dahulu. Perbedaan pendapat itu telah membawa golongan pemuda kepada tindakan selanjutnya yakni menculik Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ke Rengasdengklok. Tindakan itu berdasarkan keputusan rapat terakhir yang diadakan pada jam 24.00 WIB menjelang tanggal 16 agustus 1945 di Cikini 71, Jakarta. Rapat selain dihadiri oleh pemuda-pemuda yang berapat sebelumnya di ruangan Lembaga Bakteriologi, Pegangsaan Timur, Jakarta, Juga dihadiri oleh Sukarni, Jusuf Kunto, dr. Muwardi (barisan pelopor), Shodanco Singgih (Daidan Peta Jakarta Syu).

Mereka telah bersepakat untuk melaksanakan keputusan rapat pada waktu itu, yaitu antara lain, menyingkirkan Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ke luar kota, dengan tujuan menjauhkan mereka dari segala pengaruh Jepang. Demikianlah pada tanggal 16 agustus 1945 jam 04.00 WIB terjadi peristiwa penculikan Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta untuk dibawa ke luar kota menuju Rengasdengklok.

Soekarno, Hatta yang disertai Fatmawati dan Guntur Soekarno Putra dibawah ke rumah seorang warga keturunan Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong. Para pemuda berusaha meyakinkan kedua tokoh tersebut agar berusaha segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan tentara Jepang. Mereka meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun resikonya.

Golongan muda mengutus Yusuf Kunto untuk mengantar Achmad Soebarjo ke Rengasdengklok. Selanjutnya mereka menjemput Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta. Achmad Soebarjo berhasil meyakinkan kepada para pemuda untuk tidak terburu-terburu memproklamasikan kemerdekaan

 

e.       Penyusunan Teks Proklamasi

Pada malam hari tanggal 16 Agustus 1945, setelah sampai di Jakarta rombongan Soekarno-Hatta diantar oleh Laksamana Maeda ke rumah Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto (Kepala pemerintahan militer Jepang di Indonesia). Namun Ia tidak mau menerima rombongan         Soekarno-Hatta. Lantas memerintahkan Mayor  Jenderal  Otoshi Nishimura (Kepala Departemen Urusan Umum Pemerintahan Militer Jepang) untuk menerima kedatangan Soekarno-Hatta. Nishimura memberi kabar mengejutkan, bahwa Tokyo tidak mengizinkan proklamasi kemerdekaan Indonesia, dikarenakan perjanjian antara Sekutu dan Jepang, yang mengharuskan Jepang menjaga status quo di wilayah jajahan Jepang, salah satunya Indonesia.

Tidak puas dengan jawaban Nishimura, rombongan Soekarno-Hatta kembali ke kediaman Laksmana Maeda, di Jalan Imam Bonjol No 1. guna menyiapkan teks proklamasi. Turut bersama rombongan adalah, Achmad Soebarjo, Sukarni, BM Diah, Sudiro, Sayuti Melik.

Tanggal 17 Agustus dini hari, di rumah Laksamana Maeda, tepatnya di ruang makan, disusun naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tiga tokoh nasional yang menyusun teks Proklamasi yaitu, Soekarno, Moh. Hatta, dan Achmad Soebarjo. Soekarno yang menulis naskah Proklamasi, sedangkan Moh. Hatta dan Achmad Soebarjo menyumbangkan ide secara lisan. Kalimat pertama merupakan buah pemikiran Achmad Soebarjo, sedangkan kalimat terakhir ide dari Moh. Hatta.

Soekarno kemudian meminta persetujuan kepada semua yang hadir. Sukarni mengusulkan teks Proklamasi ditandatangani oleh Soekarno dan Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Usul Sukarni diterima, naskah Proklamasi kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik dengan beberapa perubahan-perubahan yang disepakati.

Usai penandatanganan, mereka merundingkan lokasi pelaksanaan Proklamasi. Semula disepakati dilaksanakan di Lapangan Ikada Jakarta. Namun khawatir akan memicu bentrokan dengan tentara Jepang, akhirnya disepakati pelaksanaan Proklamasi diselenggarakan di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta (sekarang Jalan Proklamasi No 1) pada pukul 10.00 WIB. Menjelang pelaksanaan proklamasi kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur No 56 terlihat sibuk. Walikota Jakarta saat itu Soewiryo memerintahkan Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan dalam pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Suhud diperintahkan mencari tiang bendera, dengan menggunakan sebatang bambu. Bendera merah-putih yang dijahit Fatmawati juga disiapkan.

Pada pukul 10.00 WIB pembacaan proklamasi dimulai. Sebelum membacakan naskah proklamasi, Soekarno terlebih dahulu menyampaikan pidato pengantar. Setelah pembacaan teks proklamasi selesai, Suhud dan Latief Hendraningrat mengibarkan bendera merah-putih. Pada saat bendera dikibarkan semua yang hadir            dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Acara selanjutnya  sambutan Walikota Jakarta, Soewiryo dan Barisan Pelopor, dr. Muwardi.

 

f.        Makna Proklamasi Bagi Kehidupan Bangsa Indonesia

Peristiwa Proklamasi yang dilakasnakan pada tanggal 17 Agustus 1945, tidak berlangsung begitu lama. Peristiwa penting ini hanya berlangsung selama kurang lebih satu jam, tetapi telah membawa perubahan yang besar bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Proklamasi kemerdekaan Indonesia dapat dijadikan sebagai tonggak pembaruan kehidupan bangsa Indonesia di segala bidang kehidupan. Setelah Proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, para pemimpin beserta rakyat Indonesia bersama-sama terus berjuang membenahi tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara

 

Adapun makna kemerdekaan bagi bangsa indonesia jika ditelaah dalam berbagai bidang antara lain:

1)    Bidang Sosial, segala bentuk diskriminasi rasial dihapuskan dari bumi bangsa Indonesia dan semua warga negara Indonesia dinyatakan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam segala bidang;

2)    Bidang Politik, Indonesia memiliki kedaulatan rakyat yaitu pengakuan dari segenap rakyat Indonesia bahwa pemerintahan Indonesia sebagai kekuasaan pemerintahan tertinggi dan terlepas dari segala bentuk penjajahan;

3)    Bidang Ekonomi, adanya kewenangan bagi bangsa Indonesia untuk menuju masyarakat sejahtera dengan kekuasaan menguasai dan mengelola sumber- sumber daya ekonomi secara mandiri atau Negara Indonesia dapat mengatur perekonomian sendiri sesuai dalam UUD 1945 pasal 33;

4)    Bidang Budaya, Negara Indonesia memiliki kepribadian nasional yang berasal dari kebudayaan bangsa indonesia itu sendiri;

5)    Bidang Pendidikan, pendidikan di Indonesia dapat merdeka seutuhnya ketika seluruh rakyat Indonesia baik wanita maupun pria, baik yang miskin maupun yang kaya, dapat menempuh pendidikan yang sesuai, dimana standar kualitas setiap lembaga pendidikan mempunyai kesamaan taraf guna membangun generasi yang berkualitas.

 

Sedangkan makna proklamasi bagi bangsa Indonesia yang terkandung dalam naskah Proklamasi yaitu :

1)    Proklamasi merupakan puncak perjuangan bangsa Indonesia mengusir penjajah untuk mendapatkan hak sebagai bangsa yang merdeka dan tidak ditindas oleh bangsa dan negara lain serta memiliki kedudukan yang sederajat dengan bangsa dan negara lain didunia ini;

2)    Secara hukum, Proklamasi merupakan lahirnya negara Indonesia yang berarti bahwa hukum kolonial (penjajah) sudah tidak berlaku lagi dan diganti dengan hukum Nasional;

3)    Proklamasi merupakan amanat rakyat untuk mewujudkan negara yang melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdasakan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial;

Proklamasi merupakan jembatan emas bagi bangsa Indonesia untuk mengisi kemerdekaan Indonesia, membentuk pemerintahan negara yang diakui oleh rakyatnya sehinga dapat mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Info Seputar Proklamasi

 

Selama ini kita hanya tahu kalau proklamasi kemerdekaan yang diucapkan oleh Bung Karno berlangsung di Jalan Pegangsaan Timur no. 56. Selebihnya kita tidak tahu siapa gerangan pemilik dari rumah yang sangat bersejarah ini.

ini mengizinkan rumahnya digunakan untuk upacara proklamasi. Salah satu bentuk perjuangan dari seorang Faradj bin Said adalah pemberian rumahnya kepada para pejuang. Rumah di Pegangsaan Timur No. 56 yang kita kenal baik sebagai lokasi dari Rumah Soekarnao di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta



Proklamasi

 

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan

Kemerdekaan Indonesia

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnya.

 

Djakarta, 17 Agustus 1945

Atas nama Bangsa Indonesia

Soekarno - Hatta



Rabu, 17 Februari 2021

Respon Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialisme dan Imprealisme Dalam Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya

 



A.    Respon Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialisme Dan Imperialisme Dalam Bidang Politik

Imperialisme dan kolonialisme yang pernah mendera Indonesia juga mengakibatkan hal lain: aktivitas pemerintahan berpusat di jawa. Hal ini akhirnya terbawa sampai sekarang. Meskipun saat ini kita sudah melakukan desentralisasi, tapi tetap terasa bahwa wilayah Jawa seakan adalah pusat pemerintahan.

Tentu, saat pemerintah kolonial Belanda menguasai Indonesia, tidak sedikit perlawanan yang menghadang. Salah satunya adalah perlawanan ciamik lewat dunia politik. Kebanyakan rakyat bergerak melalui organisasi dalam maupun luar negeri. Masa pergerakan nasional di Indonesia ditandai dengan berdirinya organisasi- organisasi pergerakan. Masa pergerakan nasional (1908 – 1942), dibagi dalam tiga tahap berikut.

Ø  Masa penyusunan (1908 – 1920) berdiri organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij.

Ø  Masa radikal/nonkooperasi (1920 – 1930), berdiri organisasi seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Ø  Masa moderat/kooperasi (1930 – 1942), berdiri organisasi seperti Parindra, Partindo, dan Gapi. Di samping itu juga berdiri organisasi keagamaan, organisasi pemuda, dan organisasi perempuan.

organisasi-organisasi pergerakan nasional dapat dilihat secara singkat pada tabel di bawah ini:

No.

Nama Organisasi

Berdiri

Tujuan

Tokoh

1.

Budi Utomo

20 mei

1908

Mengusahakan kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa

Wahidin Sudirohusodo, Dr.Soetomo

2.

Sarekat Islam

14 sept

1912

Membantu                       kemajuan taraf hidup Bumiputera

HOS

Tjokroaminoto, Agus Salim

3.

Indische Partij

 

25 des

1912

Mempersiapkan rakyat Indonesia menjadi negara yang merdeka

Douwes Dekker,       

Ki Hajar Dewantara, Cipto M.

4.

Perhimpunan Indonesia

 

 

25 okt 1908

memajukan keperntingan- kepentingan                  bersama orang-orang                        pribumi dan non pribumi bukan Eropa      di                        negeri Belanda

Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara

5.

Partai       Nasional

Indonesia

4 Juli 1927

Kemerdekaan

Indonesia

Ir.Soekarno

7.

Gabungan Politik Indonesia (GAPI)

4 Juli 1939

Indonesia berparlemen

Moh.Husni Thamrin

 

B.     Respon Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialisme Dan Imperialisme Dalam Bidang Ekonomi

Bangsa Indonesia mulai mengenal industri pertambangan dengan dibukanya kilang minyak bumi di Tarakan Kaltim oleh Belanda- Belanda membangun rel kereta api untuk memperlancar arus perdagangan- Liberialisme ekonomi - Eksploitasi ekonomi, monopoli dagang VOC menyebabkan mundurnya perdagangan nusantara di panggung perdagangan internasional. Peranan syahbandar digantikan oleh para pejabat Belanda- Kebijakan tanam paksa sampai sistem ekonomi liberal menjadikan Indonesia sebagai penghasil bahan mentah.

Berbagai upaya Eksport dilakukan oleh bangsa Belanda, pedagang perantara dipegang oleh orang timur asing terutama bangsa Cina dan bangsa Indonesia hanya menjadi pengecer, sehingga tidak memiliki jiwa wiraswasta jenis tanaman baru serta cara memeliharanya.- Dengan dilaksanakannya politik pintu terbuka, maka pengusaha pribumi yang modalnya kecil kalah bersaing sehingga gulung tikar.- Perkebunan di Jawa berkembang sedangkan di Sumatra kesulitan tenaga kerja sehingga dilakukan program transmigrasi. Untuk mendukung program penanaman modal Barat di Indonesia pemerintah Belanda membangun : Irigasi, waduk, jalan raya, jalan kereta api dan pelabuhan. Untuk pembangunan tersebut digunakan tenaga secara paksa dengan sistem rodi (kerja paksa)- Dengan memperkenalkan  sistem sewa tanah, terjadi pergeseran dari sistem ekonomi barang ke sistem ekonomi uang yang juga menyebar di kalangan petani Seperti Perlawanan Rakyat Maluku dan Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa terhadap Monopoli Belanda

 

C.       Respon Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di bidang Sosial-Budaya

Kolonialisme dan Imperialisme Bangsa Belanda di Indonesia banyak berdampak terhadap kehidupan social-budaya masyarakat Indonesia, berbagai dampak tersebut antara lain adalah:

Ø  Terciptanya kelas sosial dalam masyarakat, dengan bangsa Eropa dianggap sebagai yang tertinggi, disusul oleh Asia Timur Jauh, dan terakhir golongan Bumiputera, sebagai orang yang lebih dahulu tinggal di Indonesia, golongan Bumiputera mendapatkan perlakuan diskriminatif, keistimewaan diberikan pada golongan Eropa dan Timur Asing yang seringkali diprioritaskan dan diutamakan dalam pemenuhan Haknya, hingga kaum Bumiputera merasa didiskriminasikan di tanahnya sendiri.

Ø  Terjadinya perubahan berbagai ritual dan tradisi kuno di istana-istana dan keraton maupun di masyarakat. Tradisi yang dimiliki oleh bangsa  Indonesia, seperti upacara dan tata cara yang berlaku dalam lingkungan istana menjadi sangat sederhana, bahkan cenderung dihilangkan. Tradisi tersebut secara perlahan-lahan digantikan oleh tradisi pemerintah belanda.

Ø  Mundurnya aktivitas perdagangan laut. Daerah Indonesia pada saat abad ke XVII masih banyak bergantung pada aktivitas di tepi laut sehingga perubahan aktivitas perdagangan berdampak pada kehidupan di pedalaman. Kemunduran perdagangan di laut secara tak langsung menimbulkan budaya feodalisme di pedalaman. Di bawah prinsip feodalisme, rakyat bumiputera dipaksa untuk tunduk/patuh pada tuan tanah Barat/Timur Asing.

Ø  Masuknya agama Katolik dan Protestan, bersamaan dengan datangnya Bangsa Belanda dan sebelumnya Portugis dan Spanyol, diperkenalkanlah agama Katolik dan Protestan di Indonesia.

Berbagai dampak tersebut pada akhirnya menimbulkan berbagai respon dari Bangsa Indonesia di bidang sosial-Budaya terhadap praktek kolonialisme dan Imperialisme Belanda di Indonesia, respon tersebut antara lain dalam bentuk :

1.         Respon dalam bentuk karya sastra

Pada periode awal abad XX muncul para sastrawan, yang terkenal antara lain adalah Mohammad Yamin (1903-1964) yang mulai menulis sajak-sajak modern pada tahun 1920-1922. Lalu ada pula Marah Roesli (lahir 1898) yang menulis sebuah novel legendaris berjudul Siti Nurbaya, yang menceritakan kisah cinta tragis sebagai akibat adanya benturan antara nilai-nilai modern dan tradisional, selain itu ada pula Sanusi Pane (1905-1968) yang juga menulis puisi modern dan merupakan sastrawan berpengaruh khususnya dibidang pengembangan kebudayaan yang berakar dari kebudayaan pra-islam.

Berbagai karya sastra ini, meskipun banyak dicetak menggunakan percetakan milik pemerintah Hindia-Belanda, yaitu Balai Pustaka ternyata turut mempertahankan identitas dan kelestarian budaya-budaya daerah yang didokumentasikan dari berbagai karya tulis yang dibuat orang Indonesia, sekaligus menyebarkan berbagai identitas kebangsaan Indonesia melalui suatu Bahasa nasional, yaitu Bahasa Indonesia. Karya-karya satra ini turut pula menyumbang gagasan tentang cara hidup modern di abad 20, Kesehatan pribadi, hingga kepada emansipasi wanita

2.         Respon dalam bentuk karya seni musik

Ismail Marzuki merupakan musisi pemberontak di zamannya. Ketika pemerintah kolonial Belanda memberlakukan pembatasan hak untuk berserikat dan berkumpul (vergader verbod) terhadap organisasi-organisasi kebangsaan, dan rakyat dilarang keras mendengarkan lagu-lagu mars partai politik dan kebangsaan, jiwa Ismail memberontak. Cara-cara pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial tersebut bertujuan untuk menjaga keamanan dan ketertiban agar kekuasaanya di Indonesia langgeng terjaga.

 

D.           Respon Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Bidang Pendidikan

Guna menyiapkan tenaga guru pengajar lalu didirikanlah sekolah guru atau disebut kweekschool di kota Sala pada tahun 1852, di kota Bandung dan kota Probolinggo pada tahun 1866. Pelajar lulusan sekolah tersebut akan ditempatkan di beberapa sekolah-sekolah gubernemen. Bahasa sehari-hari yang digunakan di dalam aktivitas persekolahan tersebut ialah bahasa Jawa, Madura, Sunda atau bahasa Melayu, tergantung dimana lokasi sekolah tersebut.

Karena rasa ketidakpuasaan pada pendidikan Belanda yang cenderung mahal dan hanya orang tertentu. Maka banyak orang biasa yang tidak bisa mendapatkan pendidikan. Akhirnya muncul berbagai respon terhadap kolonialisme dan imperialism Belanda pada bidang Pendidikan sebagai bentuk sekolah tandingan terhadap sekolah pemerintah, antara lain adalah munculnya sekolah-sekolah milik orang Indonesia asli, antara lain adalah :

Ø  Taman Siswa

Setelah pulang dari pengasingan bersama dengan rekan-rekannya dalam Indische Partij (IP) Ki Hajar Dewantara, yang bernama asli Suwardi Suryaningrat lantas mendirikan sebuah perguruan yang bercorak Nasional yang di beri nama Onderwijs Instituut Taman Siswa ( Perguruan Taman Siswa).

Tujuan pendidikan Tamansiswa adalah membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, merdeka lahir batin, luhur akal budinya, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani dan rohaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya.

 

Ø  INS Kayu Tanam

Moh. Syafei seorang yang berdarah Minang dilahirkan di Kalimantan Barat tepatnya di daerah Natan tahun 1895. Anak dari Mara Sutan dengan Indung Khadijah. Ia menamatkan di Sekolah Rakyat tahun 1908, masuk sekolah Raja (Sekolah Guru) lulus pada tahun 1914. Kemudian beliau hijrah ke Jakarta dan menjadi guru pada sekolah Kartini selama 6 tahun. Disela-sela kesibukannya menyempatkan diri untuk belajar menggambar lulus tahun 1916, bahkan aktif dalam Budi Utomo serta Insulide serta membantu Wanita Putri Merdeka.

Moh. Syafei pada tanggal 31 Mei 1922 berangkat ke negeri Belanda menempuh pendidikan atas biaya sendiri. Belajar selama 3 tahun dengan memperdalam ilmu musik, menggambar, pekerjaan tangan, sandiwara termasuk memperdalam pendidikan dan keguruan. Pada tahun 1925 kembali ke Indonesia untuk mengabdikan ilmu pengetahuannya.

 BACA JUGA

HUBUNGAN PERKEMBANGAN PAHAM-PAHAM BESAR; DEMOKRASI, LIBERALISME, SOSIALISME, NASIONALISME, PAN-ISLAMISME DENGAN GERAKAN NASIONALISME DI ASIA-AFRIKA

  PERKEMBANGAN PAHAM DEMOKRASI, LIBERALISME, SOSIALISME, NASIONALISME, DAN PAN ISLAMISME ·          Demokrasi Istilah “ demokrasi” beras...