Senin, 26 Oktober 2020

Organisasi Awal Pergerakan Nasional

 

Perkembangan Nasionalisme Indonesia

Berkembangnya nasionalime di Indonesia diwujudkan dalam bentuk organisasi Pergerakan Nasional. Adapun macam-macam organisasi Pergerakan Nasional adalah sebagai berikut.

1.        Budi Utomo (BU)

Organisasi Budi Utomo (BU) didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh para mahasiswa STOVIA di Jakarta, dengan Sutomo sebagai ketuanya. Terbentuknya organisasi tersebut atas ide dr. Wahidin Sudirohusodo yang sebelumnya telah berkeliling Jawa untuk menawarkan idenya yakni membentuk Studiefounds. Gagasan Studiesfounds yang bertujuan untuk menghimpun dana guna memberikan beasiswa bagi pelajar yang berprestasi namun tidak mampu melanjutkan studinya tidak terwujud dan muncullah BU.

Tujuan BU adalah memajukan pengajaran dan kebudayaan. Tujuan tersebut ingin dicapai dengan usaha-usaha sebagai berikut.

a. Memajukan pengajaran.

b. Memajukan pertanian, peternakan, dan perdagangan.

c. Memajukan teknik dan industri.

d. Menghidupkan kembali kebudayaan.

Sampai dengan akhir tahun 1909, telah berdiri 40 cabang BU dengan jumlah anggota mencapai 10.000 orang. Akan tetapi dengan adanya kongres tersebut tampaknya terjadi pergeseran pimpinan dari generasi muda ke generasi tua. Banyak anggota muda yang menyingkir dari barisan depan dan anggota BU kebanyakan dari golongan priyayi dan pegawai negeri. Dengan demikian maka sifat "protonasionalisme" dari para pemimpin yang tampak pada awal berdirinya BU, terdesak ke belakang. Strategi perjuangannya, BU pada dasarnya bersifat kooperatif. |

2.        Sarekat Islam (SI)

Tiga tahun setelah berdirinya BU, yakni tahun 1911 berdirilah Sarekat  Dagang Islam (SDI) di Solo oleh H. Samanhudi, seorang pedagang batik dari Laweyan Solo. Organisasi SDI berdasar pada dua hal, yakni agama Islam dan Ekonomi untuk memperkuat diri dari pedagang Cina yang berperan sebagai leveransir (seperti kain putih, malam, dan sebagainya).

Atas prakarsa H.O.S. Cokroaminoto, nama SDI kemudian diubah menjadi Sarekat.Islam (SI), dengan tujuan untuk memperluas anggota dan tidak hanya terbatas pada pedagang saja. Berdasarkan Akte Notaris pada tanggal 10 September 1912 , ditetapkan tujuan SI sebagai berikut.

-            Memajukan perdagangan

-            Membantu para anggotanya yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha (permodalan)

-            Memajukan kepentingan rohani dan jasmani penduduk asli.

-            Memajukan kehidupan agama Islam.

Mengingat perkembangan SI yang begitu pesat, maka timbullah kekhawatiran dari pihak Gubernur Jenderal Indenberg, sehingga permohonan SI sebagai organisasi nasional yang berbadan hukum ditolak, dan hanya diperbolehkan berdiri secara lokal. Pada tahun 1914 telah berdiri 56 SI lokal yang diakui sebagai badan hukum.

Sifat SI yang demokratis dan berani serta berjuang terhadap kapitalisme untuk kepentingan rakyat kecil, sangat menarik perhatian kaum sosialis kiri yang tergabung dalam Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) pimpinan Sneevliet (Belanda), Semaun, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin (Indonesia). Itulah sebabnya dalam perkembangannya SI pecah menjadi dua kelompok, yakni: Kelompok nasionalis religius (nasionalis keagamaan) yang dikenal dengan SI Putih, dengan asas perjuangan Islam di bawah pimpinan H.O.S. Cokroaminoto. Kelompok ekonomi dogmatis yang dikenal dengan nama SI Merah, dengan haluan sosialis kiri di bawah pimpinan Semaun, dan Darsono.

3.        Indische Partij (IP)

Indische Partij (IP) didirikan di Bandung-pada tanggal 25 Desember 1912 oleh Tiga Serangkai, yakni Douwes Dekker (Setyabudi Danudirjo), dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Oleh karena sifatnya yang progresif, menyatakan diri sebagai partai politik dengan tujuan yang tegas yakni Indonesia merdeka: maka pemerintah kolonial menolak untuk memberikan badan hukum, dengan alasan IP bersifat politik dan hendak mengancam ketertiban umum.

Namun demikian para pemimpin IP masih terus mengadakan propaganda untuk menyebarkan gagasan - gagasannya. Satu hal yang sangat menusuk perasaan pemerintah Hindia Belanda adalah tulisan Suwardi Suryaningrat yang berjudul "Aisikeen Nederlander was' (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang isinya berupa sindiran terhadap ketidakadilan di daerah jajahan. Oleh karena kegiatannya sangat mencemaskan pemerintah Belanda, pada. bulan Agustus 1913 ketiga pemimpin IP dijatuhi hukuman buang dan mereka memilih negeri Belanda sebagai tempat pembuangannya.

Organisasi ini mempunyai cita-cita untuk menyatukan semua golongan yang ada di Indonesia, baik golongan Indonesia asli maupun golongan Indo, Cina, Arab, dan sebagainya. Mereka akan dipadukan dalam kesatuan bangsa dengan semangat nasionalisme Indonesia. Cita-cita IP banyak disebarluaskan melalui surat kabar De Expres.

 

4.        Muhammadiyah

Muhammadiyah didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada anggal 18 November 1912. Asas perjuangannya ialah Islam dan kebangsaan ndonesia, sifatnya nonpolitik. Muhammadiyah bergerak di bidang keagamaan, sendidikan dan sosial, menuju kepada tercapainya kebahagiaan lahir batin. Tujuan Muhammadiyah adalah sebagai berikut.

-            Memajukan pendidikan dan pengajaran berdasarkan agama Islam.

-            Mengembangkan pengetahuan ilmu agama dan cara-cara hidup menurut agama Islam.

Untuk mencapai tujuan tersebut, usaha yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah sebagai berikut.Mendirikan sekolah-sekolah yang berdasarkan agama Islam (dari TK sampai dengan Perguruan Tinggi, mendirikan poliklinik-poliklinik, rumah sakit, rumah yatim, masjid, dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan.

Muhammadiyah berusaha untuk mengembalikan ajaran Islam sesuai dengan Alauran dan Hadis. Itulah sebabnya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran agama Islam secara modern dan memperteguh keyakinan tentang agama Islam, sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenarnya. Kegiatan Muhammadiyah juga telah memerhatikan pendidikan wanita yang dinamakan Aisyah, sedangkan untuk kepanduan disebut Hizbul Wathon (HW). Sejak berdirinya di Yogyakarta (1912), Muhammadiyah terus mengalami perkembangan yang pesat. Sampai tahun 1913, Muhammadiyah telah memiliki 267 cabang yang tersebar di Pulau Jawa. Pada tahun 1935, Muhammadiyah sudah mempunyai 710 cabang yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

5.        Nahdlatul Ulama (NU).

Organisasi ini didirikan pada tanggal 31 Januari 1926, di Surabaya. Sebagai pendiri organisasi ini adalah Kyai Haji Hasyim Ashari dan sejumlah ulama lainnya. Organisasi itu berpegang teguh pada Ahlusunnah wal jam'ah. Organisasi ini tetap mempertahankan tradisi yang sudah lama berkembang di kalangan ulama. Tujuan organisasi ini terkait dengan masalah sosial, ekonomi, dan pendidikan. Kedua oraganisasi Islam ini sekarang merupakan organisasi massa Islam yang cukup besar di Indonesia.

6.        Gerakan Pemuda

Gerakan pemuda Indonesia, sebenarnya telah dimulai sejak berdirinya BU, namun sejak kongresnya yang pertama perannya telah diambil oleh golongan tua (kaum priyayi dan pegawai negeri).: sehingga para pemuda kecewa dan keluar dari organisasi tersebut. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Maret 1915 di Jakarta berdiri Tri Koro Dharmo, oleh R. Satiman Wiryosanjoyo, Kadarman, dan Sunardi, Tri Koro Dharmo yang diketui oleh R. Satiman Wiryosanjoyo merupakan organisasi pemuda pertama yang anggotanya terdiri atas para siswa sekolah menengah yang berasal dari Jawa dan Madura. Tri Koro Dharmo artinya "tiga tujuan mulia" yakni sakti, budi, dan bakti. Tujuan perkumpulan ini adalah sebagai berikut.

-            Mempererat tali persaudaraan antarsiswa-siswi bumi putra pada sekolah menengah dan perguruan kejuruan.

-            Menambah pengetahuan umum bagi para anggotanya.

-            Membangkitkan dan mempertajam peranan untuk segala bahasa dan budaya.

Tujuan tersebut di atas sebenarnya baru merupakan tujuan perantara, adapun tujuan yang sebenarnya adalah seperti apa yang termuat dalam majalah Tri Koro Dharmo yakni mencapai Jawa Raya dengan jalan memperkokoh rasa persatuan antara pemuda-pemuda Jawa, Sunda, Madura, Bali dan Lombok.

Oleh karena sifatnya yang masih "Jawa sentris", maka para pemuda di luar Jawa (tidak berbudaya Jawa) kurang senang. Untuk menghindari perpecahan, pada kongresnya di Solo pada tanggal 12 Juni 1918 namanya diubah menjadi Jong Java (Pemuda Jawa). Sesuai dengan anggaran dasarnya, Jong Java ini bertujuan untuk mendidik para anggotanya supaya kelak dapat menyumbangkan tenaganya untuk membangun Jawa Raya dengan jalan mempererat persatuan, menambah pengetahuan, dan rasa cinta pada budaya sendiri. Sejalan dengan munculnya Jong Java, pemuda-pemuda di daerah lain juga membentuk organisasi-organisasi seperti: Jong Sumatra Bond, Pasundan, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Selebes, Jong Batak, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun, Timorees Verbond dan lain-lain. Pada dasarnya semua organisasi itu masih bersifat kedaerahan tetapi semuanya mempunyai cita - cita ke arah kemajuan Indonesia.

7.        Taman Siswa

Sekembalinya dari tanah pembuangannya di negeri Belanda (1919), Suwardi Suryaningrat memfokuskan perjuangannya dalam bidang pendidikan. Pada tanggal 3 Juli 1922 Suwardi Suryaningrat (lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara) berhasil mendirikan perguruan tinggi Taman Siswa di Yogyakarta. Dengan berdirinya Taman Siswa, Suwardi Suryaningrat memulai gerakan baru bukan lagi dalam bidang politik melainkan bidang pendidikan, yakni mendidik angkatan muda dengan jiwa kebangsaan Indonesia berdasarkan akar budaya bangsa.

Sekolah Taman Siswa dijadikan sarana untuk menyampaikan paham ideologi yaitu nasionalisme kebudayaan, perkembangan politik, dan juga digunakan . untuk mendidik calon-calon pemimpin bangsa yang akan datang. Dalam hal ini, sekolah merupakan wahana untuk meningkatkan derajat bangsa melalui pengajaran itu sendiri. Selain pengajaran bahasa (baik bahasa asing maupun bahasa Indonesia), pendidikan Taman Siswa juga memberikan pelajaran sejarah. seni, sastra (terutama sastra Jawa dan wayang), agama, pendidikan jasmani. dan keterampilan (pekerjaan tangan) merupakan kegiatan utama perguruan Taman Siswa.

Pendidikan Taman Siswa dilakukan dengan sistem "Among" dengan pola belajar "asah, asih dan asuh". Dalam hal ini diwajibkan bagi para guru untuk bersikap dan berlaku "sebagai pemimpin" yakni di depan memberi contoh, di tengah dapat memberikan motivasi dan di belakang dapat memberikan pengawasan yang berpengaruh. Prinsip pengajaran inilah yang kemudian dikenal dengan pola kepemimpinan: "Ing ngarsa sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani". Pola kepemimpinan ini sampai sekarang masih menjadi ciri kepemimpinan nasional.

Berkat jasa dan perjuangannya yakni mencerdaskan kehidupan menuju Indonesia merdeka, maka tanggal 2 Mei (hari kelahiran Ki Hajar Dewantara) diangkat sebagai Hari Pendidikan Nasional. Di samping itu "Tut Wuri Handayani" sebagai semboyan terpatri dalam lambang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

 

1.        Partai Komunis Indonesia (PKI)

Benih-benih paham Marxisme dibawa masuk ke Indonesia oleh orang Belanda yang bernama B.J.F.M. Sneevliet. Atas dasar paham Marxisme inilah kemudian pada tanggal 9 Mei 1914 di Semarang, Sneevliet bersama-sama dengan J.A. Brandsteder, H.W. Dekker, dan P. Bersama berhasil mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV). Ternyata ISDV tidak dapat berkembang, maka Sneevliet melakukan infiltrasi (penyusupan) kader-kadernya ke dalam tubuh SI dengan menjadikan anggota-anggota ISDV sebagai anggota SI, dan sebaliknya anggota-anggota SI menjadi anggota ISDV.

Dengan. cara ini Sneevliet dan kawan-kawannya telah mempunyai pengaruh yang kuat di kalangan SI, lebih-lebih setelah berhasil mengambil alih beberapa pemimpin Sl seperti Semaun dan Darsono. Mereka inilah yang dididik secara khusus untuk menjadi tokoh-tokoh Marxisme tulen. Akibatnya SI cabang semarang yang sudah berada di bawah pengaruh ISDV, makin jelas warna Marxisnya, dan selanjutnya terjadilah perpecahan dalam tubuh SI.

Pada tanggal 23 Mei 1923 ISDV diubah menjadi Partai Komunis Hindia dan selanjutnya pada bulan Desember 1920 menjadi Partai Komunis Indonesia, PKI makin aktif dalam percaturan politik, dan untuk menarik massa dalam propaganda PKI menghalalkan segala cara, dan tidak segan-segan untuk : menggunakan kepercayaan rakyat kepada ayat-ayat Alqur an dan Hadis bahkan juga ramalan Jayabaya dan Ratu Adil. Kemajuan yang diperolehnya ternyata membuat PKI lupa diri, sehingga merencanakan suatu petualangan politik. Pada tanggal 13 November 1926 PKI melancarkan pemberontakan di Jakarta dan disusul di daerah-daerah lain seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di Sumatra Barat pemberontakan PKI dilancarkan pada tanggal 1 Januari 1927. Dalam waktu yang singkat semua pemberontakan PKI tersebut berhasil  ditumpas. Akhirnya ribuan rakyat ditangkap, dipenjara dan dibuang ke Tanah Merah, Digul Atas, dan Irian Jaya.

2.        Partai Nasional Indonesia (PNI)

Algemene Studie Club di Bandung yang didirikan oleh Ir. Soekarno pada tahun 1925 telah mendorong para pemimpin lainnya untuk mendirikan partai politik yakni Partai Nasional Indonesia ( PNI). PNI didirikan di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 oleh 8 pemimpin, yakni dr. Cipto Mangunkusumo, Ir. Anwari, Mr. Sartono, Mr. Iskak, Mr. Sunaryo, Mr. Budiarto, Dr. Samsi, dan Ir. Soekarno sebagai ketuanya. Kebanyakan dari mereka adalah bekas anggota Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda yang baru kembali ke tanah air.

Keradikalan PNI telah tampak sejak awal berdirinya. Hal ini terlikat dari anggaran dasarnya, bahwa tujuan PNI adalah Indonesia merdeka, dengan strategi perjuangannya nonkooperasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka PNI berasaskan pada: (a) self help, yakni prinsip menolong diri sendiri, prinsip "percaya pada diri sendiri", artinya memperbaiki keadaan politik, ekonomi, dan sosial budaya yang telah rusak oleh penjajah, dengan kekuatan sendiri, (b) nonkooperatif, yakni tidak mengadakan kerja sama dengan pemerintah Belanda, dan (c) marhaenisme, yakni mengentaskan massa dari kemiskinan dan kesengsaraan.

Dengan munculnya isu bahwa PNI pada awal tahun 1930 akan mengadakan pemberontakan maka pada tanggal 29 Desember 1929, Pemerintah Hindia Belanda mengadakan penggeledahan secara besar-besaran dan menangkap empat pemimpin PNI, yaitu Ir. Soekarno, Maskun, Gatot Mangunprojo, dan Supriadinata. Mereka kemudian diajukan ke pengadilan di Bandung. Dalam pengadilan Ir. Soekarno mengadakan pembelaan yang termuat dalam judul "Indonesia Menggugat". Atas dasar tindakan melanggar pasal "karet" 153 bis dan pasal 169 KUHP, mereka dianggap mengganggu ketertiban umum dan menentang kekuasaan Belanda, akhirnya mereka dijatuhi hukuman penjara dan dipenjarakan di Penjara Sukamiskin Bandung.

Sementara itu pimpinan PNI dipegang oleh Mr. Sartono, dan dengan pertimbangan demi keselamatan: maka pada tahun 1931 oleh pengurus besarnya PNI dibubarkan. Hal ini menimbulkan pro dan kontra. Mereka yang pro pembubaran, mendirikan partai baru dengan nama Partai Indonesia (Partindo) di bawah pimpinan Mr. Sartono. Kelompok yang kontra, ingin tetap melestarikan nama PNI, namun bukan lagi Partai Nasional Indonesia melainkan Pendidikan Nasional Indonesia ( PNI-Baru) di bawah pimpinan Drs. Moh. Hatta dan Sutan Syahrir.

3.        Gerakan Wanita

Munculnya gerakan wanita dirintis oleh R.A. Kartini yang kemudian dikenal sebagai pelopor pergerakan wanita Indonesia. R.A. Kartini bercita-cita untuk mengangkat derajat kaum wanita Indonesia melalui pendidikan. Cita-citanya tersebut tertulis dalam surat-suratnya yang kemudian berhasil dihimpun dalam sebuah buku yang berjudul " Habis Gelap Terbitlah Terang". Cita-cita R.A. Kartini ini diteruskan oleh Dewi Sartika. Semasa Pergerakan Nasional, maka muncul gerakan wanita yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial budaya. Organisasi-organisasi yang ada antara lain:

-            Putri Mardika di Jakarta (1912) dengani tujuan membantu keuangan bagi wanita-wanita yang akan melanjutkan sekolahnya. Tokohnya antara lain: R.A. Saburudin, R.K. Rukmini, dan R.A. Sutinah Joyopranata.

-            Kartini Found5, yang didirikan oleh Ny. T.Ch. Van Deventer (1912) dengan tujaun mendirikan “Sekolah-sekolah Kartini" bagi kaum wanita, seperti di Semarang, Jakarta, Malang, dan Madiun. Kerajian Amai Setia, di Gedang Sumatra Barat oleh Rohana Kudus (1914). Tujuannya meningkatkan derajat kaum wanita dengan cara memberi pelajaran membaca, menulis, berhitung, mengatur rumah tangga, membuat kerajinan dan cara pemasarannya.

-            Aisyiah, merupakan organisasi wanita Muhammadiyah didirikan oleh Ny. Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan (1917). Tujuannya untuk memajukan pendidikan dan keagamaan kaum wanita.

-            Organisasi Kewanitaan lain yang berdiri cukup banyak, antara lain: Pawiyatan Wanito di Magelang (1915), Wanito Susilo di Pemalang ( 1918), Wanito Rukun Santoso di Malang, Budi Wanito di Solo, Putri Budi Sejati di Surabaya ( 1919), Wanito Mulyo di Yogyakarta (1920), Wanito Utomo dan Wanito Katolik di Yogyakarta (1921) dan Wanito Taman Siswa (1922).

-            Organisasi wanita juga muncul di Sulawesi Selatan dengan nama Goronfalosche Mohammadaanche Vrouwenvereeniging. Di Ambon di kenal dengan rama Ina Tani, yang condong ke politik.

Sabtu, 24 Oktober 2020

Kehidupan Masa Pra Aksara Bangsa Indonesia

 

Berdasarkan temuan artefak peninggalan masa Praaksara di Indonesia, perkembangan aspek-aspek kehidupan masa Paaksara dapat ditelusuri untuk diungkap. Berikut ini perkembangan kehidupan manusia Praaksara di Indonesia dilihat dari perkembangan kehidupan kepercayaan, sosial, budaya, ekonomi, dan perkembangan teknologinya.

1.        Kehidupan di Bidang Kepercayaan

Sistem kepercayaan pada masa Praaksara berkembang dalam berbagai periode zaman. Pada masa itu masyarakat sudah mengenal sistem kepercayaan dan penguburan mayat. Hal itu ditandai dengan ditemukannya lukisan-lukisan di dinding-dinding gua, bangunan-bangunan megalitik, dan bekal kubur. Di Asia Timur termasuk di Indonesia, pada Zaman Batu Tua (Paleolitikum) belum ditemukan bukti-bukti adanya kepercayaan dan penguburan mayat. Sistem kepercayaan pada masa Prakasara di Indonesia diperkirakan baru dikenal pada masa Mesolitikum atau Zaman Batu Madya. Perkembangan kehidupan manusia praaksara di Indonesia di bidang kepercayaan adalah sebagai berikut.

a.         Kepercayaan Masa Mesolitikum (Zaman Batu Madya)

Masyarakat pada masa Mesolitikum di Indonesia sudah mengenal kepercayaan dan penguburan mayat. Ditemukannya lukisan-lukisan atau gambar-gambar manusia, kadal, dan perahu di dinding-dinding gua di Pulau Seram dan Papua merupakan contohcontoh hasil peninggalan pada masa itu. Lukisan manusia tersebut merupakan gambar nenek moyang yang dianggap memiliki kekuatan magis sebagai penolak roh jahat. Sedang gambar kadal dianggap sebagai penjelmaan nenek moyang atau kepala suku yang memiliki kekuatan magis. Pemujaan terhadap hewan yang dianggap memiliki kekuatan magis disebut dengan totemisme. Gambargambar perahu dimaksudkan sebagai perahu bagi roh nenek moyang dalam perjalanannya ke alam baka.

Adanya kepercayaan yang digambarkan dalam lukisan-lukisan di dinding gua tersebut menandakan bahwa masyarakat praaksara atau masyarakat purba sudah mengenal pemikiran tentang kehidupan sesudah mati. Mereka percaya bahwa roh seseorang yang telah meninggal itu tidak lenyap. Roh akan pergi menuju kehidupan alam yang berbeda dengan alam manusia. Selain itu, ditemukannya bukti-bukti penguburan di Gua Lawa (Sampung) dan di Kjokkenmodinger membuktikan bahwa pada masa Mesolitikum sudah ada upacara penguburan untuk menghormati nenek moyang yang telah meninggal.

Dalam upacara penguburan tersebut, mayat atau jenazah dibekali denganbermacam - macam keperluan sehari-hari, seperti kapak-kapak yang indah dan perhiasan. Ada juga  untuk mayat yang ditaburi cat merah dalam suatu upacara penguburan dengan maksud untuk memberikan kehidupan baru di alam baka. Upacara kamatian pada masa Mesolitikum merupakan perwujudan dari rasa bakti dan hormat seseorang terhadap leluhur yang meninggal.

b.        Kepercayaan Masa Neolitikum (Zaman Batu Muda)

Pada masa Neolitikum (Zaman Batu Muda), pemujaan terhadap arwah atau roh nenek moyang mendapat tempat yang penting. Mereka percaya bahwa ada kehidupan lain bagi seseorang yang sudah meninggal. Untuk itu diadakan upacara-upacara bagi seseorang, terutama kepala suku yang meninggal. Penguburan dilaksanakan di tempat yang dianggap sebagai asal usul anggota masyarakat atau tempat yang dianggap sebagai tempat tinggal nenek moyang.

Mayat yang dikubur disertai dengan bekal-bekal kubur, seperti: perhiasan, kapak yang indah, dan periuk. Sebagai puncak dari upacara penguburan tersebut didirikanlah bangunan-bangunan dari batu-batu besar (bangunan Megalitik). Pemujaan terhadap arwah nenek moyang tersebut diharapkan dapat memberikan kesejahteraan bagi yang masih hidup, memberikan kesuburan tanah untuk bercocok tanam, dan berkembangnya hewan-hewan ternak mereka. Masyarakat Zaman Neolitikum mempercayai adanya kekuatan “di luar” kekuatan manusia. Kepercayaan mereka dikenal dengan sebutan animism dan Dinamisme.

c.         Kepercayaan Masa Megalitikum

Sistem kepercayaan masyarakat pada masa Megalitikum sangat berkaitan erat dengan sistem kebudayaannya yang menghasilkan bangunan-bangunan monumental yang terbuat dari batu-batu besar dan masif. Bangunan Megalitik ini dipergunakan sebagai sarana penghormatan dan pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Penemuan bangunan Megalitik tersebar hampir di seluruh Kepulauan Nusantara. Bahkan sampai sekarang pun masih ditemukan tradisi Megalitikum, seperti: di Pulau Nias, Sumba, Flores, dan Toraja.

Adapun hasil-hasil terpenting dari Kebudayaan Megalitikum antara lain, Menhir, Pundek Berundak, Dolmen, Kubur peti batu, Sarkofagus, Waruga, Arca Megalitik, dan Bangunan tempat pemujaan. Pada masa Megalitikum di Indonesia ini, kepercayaan animisme atau kepercayaan memuja roh nenek moyang semakin berkembang, Demikian pula dengan kepercayaan dinamisme atau kepercayaan yang memuja benda-benda tertentu yang memiliki kekuatan

d.        Kepercayaan Masa Logam atau Perundagian

Pada masa Logam, sistem kepercayaan animisme dan dinamisme masih tetap dianut dan makin berkembang. Masyarakatnya masih mempercayai adanya kekuatan roh nenek movang dan kekuatan animisme serta dinamisme. Mereka meyakini adanya suatu roh atau jiwa yang melekat pada benda-benda benda hidup maupun mati. Benda-benda yang memiliki jiwa atau rah itu bisa berupa hewan, tumbuhan, batuan, gunung, dan sungai, Menurut kepercayaannya, roh atau jiwa itu terdapat di sekeliling manusia dan juga menjadi roh pelindung, baik di rumah, desa, ladang, dan hutan. Keberhasilan segala usaha dianggap tergantung pada kekuatan supranatural. Oleh karena itu, setiap usaha harus dimulai dengan upacara khusus untuk mendapatkan restu dari nenek moyang. Golongan pemuka agama memiliki kedudukan yang penting dalam masyarakat, karena merekalah orang yang menghubungkan antara dunia dengan kekuaran gaib.

Praktik kepercayaan yang dilakukan masyarakat pada masa Logam masih berupa pemujaan terhadap leluhur. Hal yang membedakannya dengan masa sebelumnya adalah alat yang digunakan untuk praktik kepercayaan. Pada masa Logam atau Perundagian, benda-benda yang digunakan untuk praktik kepercayaan biasanya terbuat dari bahan perunggu. Sistem kepercayaan yang dilakukan oleh manusia pada Zaman Logam masih memelihara hubungan dengan orang yang meninggal.

Pada masa tersebut, praktik penguburan menunjukkan lapisan sosial antara orang yang terpandang dengan rakyat biasa. Kuburan orang terpandang dibekali dengan barang-barang yang mewah dari logam dan upacara yang dilakukan dengan cara diarak oleh orang banyak. Sebaliknya, apabila yang meninggal orang biasa, upacaranya sederhana dan kuburan mereka tanpa dibekali dengan barang-barang mewah dari logam.

 

Tabel Kehidupan Kepercayaan Manusia Indonesia pada Masa Praaksara

Masa Paleolitikum

Masa Mesolitikum

Masa Neolitikum

Masa Megalitikum

 

Masa Logam (Perundagian)

Manusia belum mengenal Kepercayaan

 

Manusia telah mengenal Kepercayaan terhadap roh

 

Manusia juga mengenal animisme dan dinamisme

 

Kepercayaan berkaitan erat dengan kebudayaan batu – batu besar

 

Pemujaan terhadap roh leluhur berkembang dengan sarana benda-benda dari logam dalam prakrik kepercayaan

 

 

2.        Perkembangan Kehidupan Sosial

a.      Zaman Paleolitikum

Kehidupan Sosial Selama ratusan ribu tahun sejak zaman batu tua (paleolitikun) sampai zaman batu madya atau tengah (mesolitikum), masyarakat pra-aksara Nusantara hidup sebagai masyarakat nomaden. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk berburu dan mencari makanan. Mereka berjalan berpuluh-puluh atau beratus-ratus kilometer selama hidupnya. Ketika di suatu tempat mereka menemukan banyak bahan makanan serta binatang buruan, mereka tinggal untuk sementara dalam kelompok-kelompok kecil. Pada saat makanan mereka habis serta binatang buruan tidak ditemukan lagi, mereka akan pindah lagi dan mencari tempat lain untuk memenuhi kebutuhan makanan. Tradisi seperti itu terus dilakukan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, tidak ada perubahan yang berarti dalam cara hidup mereka yang disebut tradisi food gathering selama berabad-abad lamanya.

 

b.      Zaman Batu Muda (Neolitikum)

Perubahan besar dalam bidang sosial terjadi pada Zaman Batu Muda (Neolitikum). Perubahan tersebut dikenal dengan nama Revolusi Neolitik, yaitu perubahan dari mengumpulkan makanan (food gathering) menjadi menghasilkan makanan (food producing), dan dari kehidupan berpindah-pindah (nomaden) menjadi kehidupan menetap. Mereka menghasilkan makanan dengan cara bercocok tanam dan beternak.

Jenis-jenis tanaman yang mereka tanam pada mulanya, yaitu umbi-umbian, sukun, pisang, durian, rambutan, duku, kelapa, dan sagu. Selanjutnya, mereka mengenal tanaman padi-padian (jewawut). Hewan yang pada mulanya mereka jinakkan, yaitu: anjing, ayam, kerbau, dan babi. Sementara itu, kegiatan berburu dan menangkap ikan masih mereka lakukan pada waktu-waktu senggang.

Kehidupan bercocok tanam dan menetap memberikan banyak waktu luang bagi manusia pendukungnya. Waktu luang ini mereka gunakan untuk berkarya meningkatkan hasil budayanya, seperti: membuat rakit dan perahu, membuat kerajinan, membuat anyam-anyaman, dan gerabah. Mereka juga sudah membuat pakaian, terbukti dengan ditemukannya alat pemukul kulit kayu. Bahkan, mereka sudah membuat gelang, kalung, dan manik-manik dari batu indah, seperti: agat, kaseldon, dan jaspis sebagai perhiasan.

Manusia pada Zaman Batu Muda cenderung bertempat tinggal di dekat sumber air, seperti: dekat sungai, tepian danau, dan pesisir. Tempat tinggal mereka pada dasarnya berupa rumah sederhana dengan atap dari daun-daunan. Rumah seperti ini sampai sekarang masih dijumpai di Timor, Kalimantan Barat, Andaman, dan Nikobar. Kemudian berkembang bentuk rumah-rumah besar yang dibangun di atas tiang. Rumah ini dapat menampung beberapa keluarga.

 

c.       Kehidupan Sosial pada Zaman Logam (Zaman Perunggu)

Pada Zaman Logam manusia di Indonesia hidup atau tinggal menerap di desa-desa di daerah pegunungan, dataran rendah, dan tepi pantai. Mereka hidup dalam perkampungan - perkampungan yang makin teratur dan terpimpin. Bukti-bukti sisa tempat kediaman mereka ditemukan di Sumatra, Jawa, Sulawesi, Bali, Sumbawa, Sumba, dan di beberapa pulau di Nusa Tenggara Timur serta Maluku. Melalui ragam hias pada nekara-nekara perunggu dapat disimpulkan bahwa rumah orang mampu pada Zaman Logam merupakan rumah besar bertiang dengan atap melengkung, di bawahnya (kolong) digunakan untuk tempat ternak. Rumah semacam ini biasanya didiami oleh beberapa keluarga

Tabel Kehidupan Sosial Manusia Indonesia pada Masa Praaksara

Masa Paleolitikum

Masa Mesolitikum

Masa Neolitikum

Masa Megalitikum

 

Masa Logam (Perundagian)

 

 

 

 

 

 

3.        Perkembangan Bidang Teknologi

a.         Zaman Batu Tua (Paleolitikum)

Pada masa ini teknologi yang digunakan masih sangat sederhana. Perkakas atau peralatan hidup manusia pendukungnya masih terbuat dari batu. Walaupun demikian, ada juga alat-alat tertentu yang terbuat dari tulang. Pada Zaman Batu Tua (Paleolitikum), dat-alat batu yang digunakan masih sangat kasar sebab teknik pembuatannya masih sangat sederhana.

Alat-alat batu ini dibuat dengan cara membenturkan antara batu yang satu dengan batu yang lainnya. Ada pula alat yang dipangkas dengan rapi sebelum dipergunakan. Alat-alat batu dari Pacitan ini berupa kapak genggam, yaitu kapak tak bertangkai yang digunakan dengan cara menggenggam, kapak perimbas, kapak penetak, pahat genggam dan yang paling banyak berupa alat-alat kecil yang disebut alat serpih (flakes), Alat - alat dari tulang dan tanduk.

b.        Zaman Batu Madya (Mesolitikum)

Alat-alat batu yang digunakan dari Zaman Baru Tua masih terus digunakan dan dikembangkan. Alat-alat ini juga mendapat pengaruh dari Asia Daratan sehingga memunculkan corak tersendiri. Demikian pula, alat-alat tulang dan flakes, yang berasal dari Zaman Batu Tua masih memegang peranan penting pada Zaman Batu Madya. Manusia pada zaman ini juga telah membuat gerabah. Gerabah adalah benda pecah belah yang dibuat dari tanah liat yang dibakar.

c.         Zaman Batu Muda (Neolitikum)

Kemahiran membuat alat -alat dari batu sudah menunjukkan teknik yang sangat tinggi. Pembuatan alat-alat dari batu ini dilakukan dengan cara mengupam (mengasah). Tradisi mengupam alat-alat batu telah dikenal luas di kalangan penduduk kepulauan Indonesia. Alat-alat yang pada umumnya diasah (diupam) adalah beliung dan kapak batu, dan juga dilakukan pada mata panah dan mata tombak.

Selain itu, pada masa bercocok tanam ini perhiasan-perhiasan berupa gelang dari batu dan kulit kerang telah dikenal juga. Gelang-gelang dalam jumlah besar banyak di temukan di pulau Jawa. Ada pula sebagian yang belum selesai pengerjaannya. Dari geleng-gelang yang belum selesai dikerjakan tersebut dapat diketahui teknik-teknik pembuatannya. Pertama, batu dipukul-pukul sampai diperoleh bentuk bulat gepeng. Kemudian kedua sisi yang rata dicekungkan dengan cara dipukul-pukul, sampai kedua cekungan itu bertemu dan membentuk lubang. Selanjutnya gelang-gelang itu digosok dan diasah sampai diperoleh bentuk yang diinginkan. Teknik lain untuk membuat lubang itu adalah dengan cara digurdi. Batu bulat gepeng digurdi dari kedua sisinya yang rata dengan sebuah gurdi dari bambu. Gurdi dan sebilah bambu yang lain diputar di atas permukaan batu setelah diberi air dan pasir. Selain itu juga ditemukan Pemukul kulit kayu untuk membuat pakaian.

d.        Zaman Logam atau Perunggu

Penggunaan logam tidak secara serta merta dipergunakan di seluruh wilayah Indonesia, melainkan secara bertahap. Sementara itu beliung dan kapak batu masih dipergunakan. Setelah keahlian tentang teknik pembuatan alat-alat logam dikenal secara luas, maka berangsur-angsur alat-alat dari batu ditinggalkan. Sementara itu penggunaan gerabah sebagai wadah masih tetap dipertahankan bahkan terus dikembangkan. Kemajuan teknologi pembuatan logam memengaruhi cara berpikir manusia pendukungnya dan secara ekonomis mereka menjadi lebih makmur.

Pembuatan alat-alat dari logam tersebut dikerjakan oleh orang-orang yang mempunyai keahlian khusus yang disebut undagi atau tukang. Teknik pembuatan benda perunggu ada dua macam, yaitu dengan cetak setangkup (bivalve) dan cetak lilin (a cire perdue).

Di samping tradisi pembuatan alat-alat perunggu, manusia pada periode ini juga sudah mampu melebur bijih-bijih besi dalam bentuk alat-alat yang sesuai dengan keinginan dan kegunaannya. Benda-benda besi yang banyak ditemukan di Indonesia antara lain berupa mata kapak, berbagai jenis pisau dalam berbagai ukuran, mata sabit yang berbentuk melingkar, tajak, mata tombak, dan gelang-gelang besi. Logam emas pun telah dimanfaatkan untuk membuat perhiasan dan benda-benda persembahan kubur. Pada masa Perundagian ini, pembuatan gerabah juga berkembang pesat baik bentuk, teknik, maupun ragam hiasnya. Pada masa ini sudah dikenal teknik pembuatan gerabah dengan menggunakan roda putar pada landsannya. Pada masa ini diperkirakan bahwa pembuatan gerabah dipengaruhi tradisi gerabah Sa-huynh.

 

Tabel Kehidupan Teknologi Manusia Indonesia pada Masa Praaksara

Masa Paleolitikum

Masa Mesolitikum

Masa Neolitikum

Masa Megalitikum

 

Masa Logam (Perundagian)

 

 

 

 

 

 

 

Teori Asal - Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia dan Manusia Modern

 

Ada Beberapa teori tentang asal – usul nenel moyang Bangsa Indonesia dan manusia modern di dunia

1.        Teori Yunnan

Teori ini menyatakan bahwa asal-usul nenek moyang kita berasal dari Yunnan, Tiongkok. Teori ini didukung oleh Moh. Ali, yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol yang terdesak oleh bangsa-bangsa yang lebih kuat sehingga melakukan migrasi menuju ke selatan. Ada pula R.H Geldern dan J.H.C. Kern yang juga mendukung teori ini. Dasar pendapat mereka berdua adalah:

» Ditemukannya kapak tua di wilayah Nusantara yang memiliki kemiripan dengan kapak tua yang ada di kawasan Asia Tengah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa telah terjadi migrasi penduduk dari Asia Tengah ke Kepulauan Nusantara.

Bahasa Melayu yang berkembang di Nusuntwra memiliki kemiripan dengan bahasa Champa yang ada di Kamboja, Hal Ini membuka kemungkinan bahwa penduduk champa yang ada di Kamboja berasal dari dataran Yunnan dengan menyusuri Sungai Mekong, Arus perpindahan ini selanjutnya diteruskan ketika sebagian dari mereka melanjutkan perpindahan dan sampai ke wilayah Nusantara, Menurut teori Ini, migrasi penduduk dari Yunnan menuju kepulauan Nusantara ini melalui tiga gelombang, yaitu perpindahan orang Negrito, Proto Melayu, dan juga Deutro Melayu.

a.         Orang Negrito

Orang negrito diperkirakan sudah memasuki Kepulauan Nusantara sejak 1000 SM. Mereka diyakini sebagai penduduk paling awal Kepulauan Nusantara, Hal ini dibuktikan dengan penemuan arkeologi di Gua Cha, Malaysia. Pada perkembangannya, orang Negrito menurunkan orang Semang, Ciri-ciri fisik orang Negrito, yaitu berkulit gelap, rambut keriting, hidung lebar dan bibir tebal. Di Indonesia, ras ini sebagian besar mendiami daerah Papua. Keturunan ras ini terdapat di Riau pedalaman), yaitu suku Siak (Sekat) sertai Papua melanosoid mendiami Pulau Papua dan Pulau Melanesia.

b.        Proto Melayu

Migrasi orang Proto Melayu ke Kepulauan Nusantara diperkirakan memasuki wilayah Nusantara pada 2500 SM. Sebutan Proto Melayu adalah untuk menyebutkan orang-orang yang melakukan migrasi pada gelombang pertama ke Nusantara. Suku yang termasuk orangorang Proto Melayu adalah suku Toraja, Dayak, Sasak, Nias, Rejang, dan Batak. Orang Proto Melayu memiliki keahlian lebih baik dalam hal bercocok tanam jika dibandingkan dengan orang Negrito.

c.         Deutro Melayu

Deutro Melayu adalah sebutan untuk orang-orang yang melakukan gelombang migrasi pada gelombang kedua ke Nusantara. Kedatangan Deutro Melayu ke Nusantara diperkirakan pada 1500 SM. Suku bangsa yang termasuk Deutro Melayu di Indonesia, antara lain Minangkabau, Aceh, Sunda, Jawa, Melayu, Betawi, dan Manado.

 

2.        Teori Out of Taiwan

Teori Ini berpandangan bahwa bangsa yang ada di Nusantara Ini berusal  dari Taiwan bukan Daratan Tiongkok. Teori Inf didukung oleh Harry Truman Simanjuntak. Menurut pendekatan Ilngulstik, dijelaskan bahwa dari keseluruhan bahasa yang dipergunakan suku suku di Nusantara memiliki rumpun yang sama, yaitu rumpun Austronesia, Akar dari keseluruhan cabang bahasa yang dipergunakan leluhur yang menetap di Nusantara berasal dari rumpun Austronesia di Formosa atau dikenal dengan rumpun Taiwan, Selain itu, menurut riset genetika yang dilakukan pada ribuan kromosom tidak menemukan kecocokan pola genetika dengan wilayah Tiongkok.

 

3.        Teori Nusantara

Teori Nusantara menyatakan bahwa asal usul bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri, bukan dari luar. Teori ini didukung, antara lain oleh Muhammad Yamin, Gorys Keraf, dan J.Crawford. Teori ini dilandasi oleh beberapa argumen, antara lain:

Bangsa Melayu merupakan bangsa yang berperadaban tinggi. Peradaban ini tidak mungkin dapat dicapai apabila tidak melalui proses perkembangan dari kebudayaan sebelumnya. Bahasa Melayu memang memiliki kesamaan dengan bahasa Champa (Kamboja), namun persamaan ini hanyalah suatu kebetulan saja. Adanya  kemungkinan bahwa orang Melayu adalah keturunan dari Homo soloensis dan Homo wajakensis, Adanya perbedaan bahasa antara bahasa Austronesia yang berkembangdi Nusantara denganbahasa Indo-Eropayangberkembang di Asia Tengah.

 

4.        Teori Out of Africa

Teori Our of Africa dengan tokohnya Stringer dan Briuer menyatakan bahwa manusia modern yang menyebar keseluruh dunia sekarang berasal dari kawasan Afrika. Teori Out of Africa, merupakan pandangan mayoritas masyarakat ilmiah. Akhir-akhir ini teori ini semakin mendapatkan bukti-bukti genetika, linguistik, dan arkeologis. Para ahli semakin banyak yang mengikuti teori bahwa Afrika adalah tempat asal awal manusia modern yang pertama. Teori Out of Africa didukung oleh penemuan Homo sapiens tertua, yang berusia 195.000 tahun, di dekat Sungai Omo, Ethiopia (Afrika Timur). Fosil Homo sapiens ini lebih tua dari Homo Neanderthalensis.

Dalam perkembangannya teori Out of Africa juga mendapatkan dukungan dari penelitian DNA mitokondria (mtDNA). Penelitian DNA mitokondria mengungkapkan asal-usul manusia modern berdasarkan persamaan kode-kode genetik. Kode-kode genetika manusia 99,9 persen identik di seluruh dunia. Selebihnya yaitu sekitar 0,01 adalah DNA yang menimbulkan perbedaan fisik seperti, warna kulit, warna mata, resiko penyakit, dan beberapa DNA yang tidak jelas fungsinya.

Berdasarkan penelitian DNA para ilmuwan berpendapat bahwa berbagai populasi manusia modern sekarang ini semua merupakan satu keturunan dari satu nenek moyang (“Hawa” mitokondria). Hawa mitokondria segera bergabung dengan "Adam kromosom Y”. Dengan demikian, maka semua umat manusia terkait dengan Hawa mitokondria melalui rantai para ibu yang tak terpatahkan. Dari hasil penelitian DNA mitokondria disimpulkan bahwa manusia modern bukanlah keturunan dari manusia purba semacam Homo sapiens yang hidup 500.000 tahun lalu. Manusia modern juga bukan keturunan spesies yang lebih tua seperti Homo habilis (2,5 1,6 juta tahun lalu), Homo ergaster (1,8 1,4 juta tahun lalu), dan Homo erectus (1,5 juta tahun lalu).

 

5.        Teori Multiregional Evolution Model

Teori Multiregional Evolution Model yang dipelopori olch Wolpoff, Thorne dan Wu, menyatakan bahwa manusia modern tidak hanya berasal dari Afrika, melainkan juga dan Eropa dan Asia. Artinya bahwa manusia modern muncul di berbagai wilayah sebagai hasil evolusi dari populasi yang sudah ada sebelumnya. Akan tetapi, penganut teon Multiregional Evolution Model tetap melihat Afrika sebagai sumber utama keanekaragaman genetik manusia, namun menekankan peranan yang lebih besar pada pencampuran.

Senin, 14 September 2020

POLITIK ETIS

Ethische Politiek

( Politik Etis )

 

Gagasan politik ini ditemukan oleh Van Deventer sebagai politik balas budi kepada rakyat Indonesia. Kebijakan politik etis ini bertumpu pada tiga bidang. yaitu pendidikan. irigasi. dan transmigrasi. Di bidang pendidikan, tujuan jangka pendeknya adalah menjadikan rakyat Indonesia bisa membaca dan menulis menjadi tenaga menengah pada parusahaan-perusahaan Belanda.  Perkebunan-perkebunan tebu membutuhkan irigasi yang intensif. Pabrik-pabrlk yang banyak jumlahnya, kantor-kantor dagang dan cabang-cabang perusahaan yang lain menyebabkan timbulnya kebutuhan tenaga kerja yang murah dibutuhkan dl luar Jawa sebagai daerah-daerah yang baru dibuka untuk perkebunan.  Dari program politik etis ini di bidang pendidikan lahirnya kaum terpelajar yang dalam perkembangannya menjadi pelopor dan pemimpin pergerakan nasional.

 

Dampak di Bidang Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Pendidikan

di Indonesia

Bidang Politik 

Kuatnya pengaruh di bidang politik. pemerintah kolonial Belanda tidak sekadar memengaruhi jalannya pemerintahan pribumi atau kekuasaan kerajaan-keraiaan yang ada di Indonesia. Akan tetapi, juga dapat menentukan wilayah-wilayah kekuasaan kerajaan. bahkan tidak sedikit wilayah-wilayah kekuasaan kerajaan yang diambil alih pemerintah Hindia Belanda. Wilayah kekuasaan yang diduduki kerajaan semakin dipersempit, bahkan tidak sedikit kekuasaan kerajaan yang sampai dihapuskan. Kemudian kedudukan para penguasa pribumi menjadi aparat pemerintah kolonial. 

Keberadaan masyarakat Indonesia pada masa pemerintahan kolonial dibagi dalam dua situasi. Keberadaan dalam situasi sebelum dijalankan politik etis, kehidupan masyarakat terdiri atas beberapa golongan berdasarkan status sosial, yaitu kalangan bawah, menengah, dan atas. Kalangan bawah adalah rakyat jelata, yang meliputi kaum buruh di pertanian, perdagangan, pertukangan, dan para pekerja rendah lainnya. Kalangan menengah meliputi pedagang, petani pemilik tanah, dan pegawai pemerintahan kolonial. Kalangan atas meliputi pemuka agama, bangsawan dari kerabat kerajaan, dan yang sederajat.

Keberadaan dalam situasi sesudah dijalankan politik etis, kehidupan masyarakat ditandai dengan tumbuhnya kalangan pelajar. Sebagian besar yang termasuk kepada kalangan ini adalah mereka yang berasal dari kalangan masyarakat kelas menengah ke atas.

Bidang Ekonomi

Ketika pemerintahan kolonial Belanda berkuasa. para penguasa pribumi kedudukannya menjadi aparatur pemerintah kolonial. Mereka tidak lagi mendapat penghasilan dari tanah jabatan (lungguh) dan upeti seperti sebelumnya. Pendapatan mereka diganti dengan gaji menurut ketentuan pemerintah kolonial. Akibatnya penghasilan mereka jauh menurun dari sebelumnya.

Rakyat terutama nasib para petani menanggung beban amat berat. Rakyat diharuskan menanam tanaman yang menguntungkan pemerintah kolonial. Rakyat terancam kehilangan mata pencaharian, banyak barang dagangan yang dijadikan monopoli pemerintah kolonial. Banyak dari mereka hanya kuli perkebunan. Mereka tidak bisa bergerak bebas mengembangkan perekonomiannya karena diam dan dibatasi.

 

Bidang Sosial

Khususnya nasib para penguasa, kedudukan mereka berubah menjadi aparatur pemerintah kolom Belanda, mereka menjadi turun deraiat dan kehormatan sebagai pemuka masyarakat pribumi. Mereq bukan Iagi sebagai penguasa, melainkan hanyalah sebagai pembantu pemerintah kolonial, sedangk derajat kehidupan rakyat biasa diiniak-iniak. Martabat dan hak-haknya tidak mendapat pengakuan perlindungan. Keseharian mereka diliputi rasa cemas dan tidak percaya diri, bodoh, serta termarginalkan.

 

Bidang Budaya

Walaupun tidak serta merta, tata kehidupan barat sedikit demi sedikit berkembang menjadi tata kehidupan pribumi. Cara pergaulan, gaya hidup, bahasa, dan cara berpakaian barat mulai dikenal kalangan keraton maupun masyarakat, dan terus berkembang mengikis tradisi-tradisi keraton maupun masyarakat. Hingga sekarang pengaruhnya dapat dirasakan.

 

Bidang Pendidikan

Sebelum masa Kolonial, daerah Islam di Indonesia sudah memiliki dan melaksanakan suatu sistem pendidikan yang menitikberatkan pada keterampilan membaca Alquran, praktik salat, dan pelajaran tentang dasar agama Islam yang pokok. Pemerintah kolonial Belanda tidak mau membantu pendidikan Islam, tetapi membantu pendidikan Kristen. Mereka menyusun kurikulum pendidikannya, dan menempatkannya sebagai pintu masuk bagi pengajaran ilmu pengetahuan yang sekuler.

Minggu, 13 September 2020

KuisSSSSSS

  Berikut untuk link soal kuis untuk mengasah kemampuan dengan menggunakan google formulir. Cukup klik pada bagian latihan soal yang di akan dikerjakan. Lakukan infut nama dankelas, serta masukan kode token atau password  


Latihan Soal BAB 1 Kelas XI Semester 1 

Kode Token  : HISTORIA

WAKTU PENGERJAAN 60 MENIT

πŸ‘‰  MULAI QUIZZ


Ulangan Harian 1 Geografi

Kode Token : MANOHARA

Mulai Quizz πŸ‘ˆ


KUIS MEMBANGUN KARAKTERπŸ‘ˆ


Kuis Ulangan BAB 2

Kode TOKEN / PASSWORD : DAMINDA

MULAI QUIZS πŸ‘ˆπŸ‘ˆ


KUIS ULANGAN HARIAN KD 3.3 KELAS XII GEOGRAFI

MULAI KUIS πŸ‘ˆ


Kuis Ulangan Harian Bab 1 dan 2 Kelas XI Sejarah Indonesia Sem Genap 

Kode token : MERDEKA


QUIS SEJARAH PEMINATAN KD 3.3 & 3.4


MULAI KUIS πŸ‘ˆ

baca juga:

1Kolonialisme dan Imprealisme Barat di Indonesia

2. Dampak Penjahan Eropa di Indonesia

3. Rakyat di Berbagai Daerah Nusantara Melawan Kolonialisme

KUIS SEJARAH INDONESIA KELAS X

 

       Berikut untuk link soal kuis untuk mengasah kemampuan dengan menggunakan google formulir. Cukup klik pada bagian latihan soal yang di akan dikerjakan. Lakukan infut nama dankelas, serta masukan kode token atau password

Latihan Soal BAB 1 Kelas X Semester 1 

Kode Token  : HISTORIA

MULAI QUIZZ

Kuis Analisis Arnold J ToynbeeπŸ‘ˆ


Kuis Ulangan Bab 2

Kode Token / Password : KUISS

Mulai Quizs


ULANGAN HARIAN BAB 1 DAN 2 SEM GENAP 

KODE TOKEN : ULANGAN

MULAI KUIS πŸ‘ˆ

Jizzu Store

Nikmati Belanja mudah dan murah di 

πŸ‘Jizzu Store Shopee


baca Juga :

manusia purba

manusia dan sejarah


HUBUNGAN PERKEMBANGAN PAHAM-PAHAM BESAR; DEMOKRASI, LIBERALISME, SOSIALISME, NASIONALISME, PAN-ISLAMISME DENGAN GERAKAN NASIONALISME DI ASIA-AFRIKA

  PERKEMBANGAN PAHAM DEMOKRASI, LIBERALISME, SOSIALISME, NASIONALISME, DAN PAN ISLAMISME ·          Demokrasi Istilah “ demokrasi” beras...